Dari tempatku berdiri,
Banyak tawa yg bisa aku lihat, mereka pastilah sedang berbahagia.
Memasuki dunia baru, harapan yang terlihat, atau bahkan mimpi yang sudah menjadi nyata.
Aku bisa merasakannya.
Banyak tawa yg bisa aku lihat, mereka pastilah sedang berbahagia.
Memasuki dunia baru, harapan yang terlihat, atau bahkan mimpi yang sudah menjadi nyata.
Aku bisa merasakannya.
Dari tempatku berdiri,
Dihadapanku.
Kulihat dia, yang juga melihat ke arahku. Kuraih wajahnya, yang juga mencoba meraih wajahku.
Wajahnya sendu. Banyak ketakutan yang tak bisa diungkapkan.
Yang dia lakukan hanyalah berusaha, sedikit apapun nyali yang tersisa.
Semangatnya hampir habis.
Dihadapanku.
Kulihat dia, yang juga melihat ke arahku. Kuraih wajahnya, yang juga mencoba meraih wajahku.
Wajahnya sendu. Banyak ketakutan yang tak bisa diungkapkan.
Yang dia lakukan hanyalah berusaha, sedikit apapun nyali yang tersisa.
Semangatnya hampir habis.
Dari tempatku berdiri,
Apa lagi yang harus aku takutkan?
Kesendirian? Apa itu alasan yg membuat semangatku hilang?
Aku dulu pernah ada dalam situasi seperti saat ini, tapi dulu ada sosok itu.
Mungkin dulu juga salahku, yang menganggap aku bisa karena sosok itu.
Mungkin saja benar, tapi tidak seutuhnya.
Ada keinginan yang selalu aku usahakan.
Apa lagi yang harus aku takutkan?
Kesendirian? Apa itu alasan yg membuat semangatku hilang?
Aku dulu pernah ada dalam situasi seperti saat ini, tapi dulu ada sosok itu.
Mungkin dulu juga salahku, yang menganggap aku bisa karena sosok itu.
Mungkin saja benar, tapi tidak seutuhnya.
Ada keinginan yang selalu aku usahakan.
Dari tempatku berdiri,
Kutatap lagi dia yg ada dihadapanku, yang juga menatap ke arahku, dan mencoba meraih wajahku.
Tidakkah kau lelah?
Sibuk dengan perasaanmu.
Lihat. Kau jatuh, berjalan, berlari, atau mungkin jatuh lagi, berdiri lagi, dan berlari lagi.
Adakah sosok itu peduli?
Sosok itu hanya peduli pada dirinya. Dunianya.
Lantas apa lagi?
Kutatap lagi dia yg ada dihadapanku, yang juga menatap ke arahku, dan mencoba meraih wajahku.
Tidakkah kau lelah?
Sibuk dengan perasaanmu.
Lihat. Kau jatuh, berjalan, berlari, atau mungkin jatuh lagi, berdiri lagi, dan berlari lagi.
Adakah sosok itu peduli?
Sosok itu hanya peduli pada dirinya. Dunianya.
Lantas apa lagi?
Dari tempatku berdiri,
Ku gantungkan lagi harapan itu, tapi tidak kepada sosok itu, namun kepada-Nya.
Akan kuciptakan bahagiaku sendiri.
Akan kunikmati setiap proses ini.
Bilamana bahagia itu ada,
Aku yang telah mengusahakannya.
Dan bilamana tak kunjung datang,
Tak ada yang akan aku salahkan.
Aku hanya perlu lebih bersabar.
Ku gantungkan lagi harapan itu, tapi tidak kepada sosok itu, namun kepada-Nya.
Akan kuciptakan bahagiaku sendiri.
Akan kunikmati setiap proses ini.
Bilamana bahagia itu ada,
Aku yang telah mengusahakannya.
Dan bilamana tak kunjung datang,
Tak ada yang akan aku salahkan.
Aku hanya perlu lebih bersabar.
Dan dari tempatku berdiri,
Akan kucoba terus merelakan.
Akan kucoba terus belajar.
Akan kucoba terus meraih cita dan asa.
Akan kutumbuhkan semangat yang kurang.
Akan terus kuusahakan.
Akan kucoba selalu bersyukur.
Dan berbahagia.
Akan kucoba terus merelakan.
Akan kucoba terus belajar.
Akan kucoba terus meraih cita dan asa.
Akan kutumbuhkan semangat yang kurang.
Akan terus kuusahakan.
Akan kucoba selalu bersyukur.
Dan berbahagia.
Jakarta, November 2015.
VIREN INDAH PRATIWI